Wednesday, August 3, 2011

The Sweet Differences


Baru saja ada teman bercerita tentang kehidupannya, dia sedang dihadapkan pada permasalahan pelik. Saya sebut teman saya dengan nama X, si X ini dari keluarga muslim yang taat beribadah sedangkan si wanita dari keluarga non-muslim. Saya kurang paham kapan kisah cinta mereka dimulai, saya justru tahu mereka jadian dari seorang teman dekat. Permasalahan keduanya sebenarnya terjadi sejak mereka mengikrarkan janji setia mereka satu sama lain, namun mereka berusaha tutupi dan acuhkan. Nyatanya masalah tidak bisa begitu saja untuk dilupakan. Mereka dihadapkan pada satu kenyataan ketika harus dipaksa untuk memilih jalan kehidupannya kedepan. Yap, bagaimana anak-anak mereka nantinya jika mereka tetap melanjutkan hubungan mereka ini karena situasinya sekarang pihak keluarga wanita sudah terang-terangan merestui hubungan mereka.

Tapi saya disini tidak akan menceritakan lebih lanjut tentang kisah teman saya tersebut. Biarlah teman saya yang menentukan arah hidupnya. Toh juga dia sudah dewasa dan bisa berpikir logis walau nyatanya kadang untuk masalah cinta, logika tidak dapat berbuat apa-apa. Cinta beda agama, sepertinya sudah sangat wajar dijaman yang serba apa-apa dilegalkan demi yang mereka katakan sebagai hak asasi. Mereka seolah lebih paham akan aturan yang telah Tuhan buat bagi hambanya. Tanpa ragu-ragu mereka buka semua ke khalayak, propaganda media pun menjadi hal pendorong yang sebelumnya tabu di kalangan masyarakat menjadi sesuatu yang wajar.

Saya mulai belajar mengenai kisah-kisah asmara beda agama sejak dari jaman SMP sampai perkuliahan, tapi tentu bukan saya yang mengalami(saya termasuk alim dijaman itu, sampai sekarang sih masih alim katanya :p) melainkan teman saya. Pada masa SMP, hal tersebut masih kami anggap hal yang lumrah dikalangan kami, toh pemikiran anak SMP sampai mana sih. Menginjak SMA hal tersebut terulang, banyak teman-teman saya yang mengalaminya. Faktanya kebanyakan dari pasangan tersebut tidak ada yang bertahan lama. Pikir saya waktu SMA, karena mungkin gejolak napsu yang masih gede waktu itu, jadi masalah pacaran beda agama bukan hal yang utama lagian kesenangan sesaat lah yang dulu dikejar. Sebagai catatan saja, SMP dan SMA saya negeri waktu itu baru menginjak kuliah saya masuk universitas berlabel agama didalamnya. Tapi untuk saat ini, ketika sebuah ikatan tidak hanya membutuhkan kesenangan semata melainkan harus dibarengi dengan adanya tanggung jawab, saya rasa hal semacam ini menjadi lebih kompleks.


Beda agama, apalagi di Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim belum lagi ditambah kebudayaan ketimurannya. Satu hal yang sampai sekarang saya pun masih bertanya, apakah masih pantas berkiblat ke timur ketika nyatanya orang timur lebih "kasar" dibanding barat yang sangat kita jauhi kebudayaannya. Terlepas dari itu, kisah cinta dua agama yang berbeda menjadi suatu yang tidak wajar di kalangan kita atau mungkin negara lain yang masih menerapkan agama dalam mengatur warganya. Bagai seorang Romeo dan Juliet yang harus mati bunuh diri akibat pertentangan kedua orang tua mereka, namun disini yang menjadi masalah lebih dari sebuah harta melainkan harga diri dan martabat. Sebuah agama yang dianggap sakral dan terlalu suci untuk diutak-atik menjadi sebuah permainan oleh dua insan yang dimabuk asmara. Menolak untuk mendengarkan apa yang sebelumnya para pengkhotbah dari tiap agama mereka untuk selalu mengingat Tuhannya ketika ada masalah. Mengalihkan Tuhan mereka pada yang namanya cinta. Cinta yang terlalu diagungkan. Cinta yang katanya sumber dari segala kebahagian. Cinta yang di tiap sinetron dan film katakan selalu berujung pada sebuah senyum bahagia dari keduanya. Nyatanya semua hanya menjadi omong kosong dikehidupan nyata. Cinta lebih banyak memberikan penderitaan! Kebahagiaan cinta itu hanya ada di setiap jengkal fantasi para pemujanya yang sedang kasmaran.

Ada kutipan menarik dari film cin(T)a:
Anisa: Kenapa Allah nyiptain kita beda-beda kalo Allah hanya mau disembah kita dengan satu cara?
Cina: Makanya Allah nyiptain cinta, biar yang beda-beda bisa nyatu.


---------------------
image source 1: artnet.com
image source 2: sadie jane baynham


1 comment:

Meidhan Fidelia said...

etiba tiba ngomongin cinta beda agama aja ini bocaaah.. calonmu beda agama po bon? #eaaaa