Monday, October 5, 2015

Lost

Tak kan ada yg pernah tau kapan ajal datang. Bagimu dia datang dengan menyakitkan. Tapi percayalah, yang kau tinggalkan disini pun jauh lebih sakit daripada segala penderitaanmu tadi pagi.

Now, have take a rest. Heaven is all yours. Sorry for all the things that make you sad or mad.

Maaf karena lalai dalam menjagamu.

Saturday, October 4, 2014

Dialog Imajiner

+ Kalo ada sesuatu mbok ya di ceritain.
- Tapi kita ngga pernah bisa semudah itu untuk bisa bertukar cerita.
+ Tapi kan bisa dicoba sedikit demi sedikit?
- Sudah kok, beberapa tahun ini sih sudah agak mulai cair cm ya masih di masalah umum aja sih.
+ Lha? kenapa ga bahas yang lebih privasi?
- Ngga semudah itu. Dari awal memang settingan dan didikan kita menjadikan kita seperti itu.
+ Settingan?
- Iya, lingkup kehidupan yang membuatnya semuanya menjadi seperti sekarang ini.
+ Dan kamu ngga ingin merubah semuanya supaya lebih baik?
- Sudah, paling tidak saya lebih dekat dan menjaganya.
+ Definisi dekat macam apa yang hanya untuk bertukar cerita saja kau tidak mau melakukannya.
- Paling tidak menurutku aku sudah melakukannya dengan tindakanku.
+ Dan kau berpikir bahwa orang-orang disekitarmu memiliki sense yang sama untuk tahu apa2 yang kau ingin bicarakan dengan gerakanmu?
- Iya, aku berpikir seperti itu.
+ Kok naif sekali kamu. Bukan berarti dengan kau punya rasa sensitif yang besar hal itu juga ada di tiap orang lain kan?
- Ya paling tidak aku sudah mencobanya kan. 
+ Dan sampai kapan akan memendam semuanya? mengorbankan sesuatu yang dulu kau idam-idamkan?
- Entahlah, pikiranku sendiri selalu kacau ketika memikirkannya.
+ Lalu apa yang membuatmu bertahan sedalam ini?
- Mungkin sebuah rasa penyesalan dan juga ketakutan akan rasa bersalah yang nantinya tidak ada gantinya lagi, 

Wednesday, June 18, 2014

Mendahului Keputusan

Suasana riuh rendah dan gelak tawa di acara itu membuatnya ikut terbawa suasana. Menikmati alunan musik daerah yang sudah sangat jarang ia dengar. Bertemu orang-orang baru yang sebelumnya ia tak pernah kenal. Namun tiba-tiba kenangan itu menyergap masuk ke dalam alam bawah sadarnya secara tiba-tiba. Kenangan yang menyergapnya untuk kembali mengundang ingatan akan pengalaman-pengalaman yang tak mengenakkan. Tubuhnya lemas, kakinya perlahan melambat. Semakin mendekat pikirannya semakin tak tenang. Dia semakin menjadi-jadi bermain dengan ingatannya. Mulai dari satu peristiwa ke peristiwa yang lainnya. Manuskrip akan segala peristiwa hidupnya tersaji. Dia bisa saja menghentikan ingatan itu, tapi alam bawah sadarnya sudah terlanjur tak berdaya.

Ada trauma mendalam pada dirinya. Trauma yang tak pernah dia bagi kepada siapapun, dia pendam sendiri. Ketakutan akan penghakiman orang lain akan apa yang dirasakannya sudah cukup membuatnya mengurungkan niat untuk sekedar berbagi rasa sakitnya. Trauma itu mengendap sudah cukup lama tanpa dia sadari sedikitpun. Dia masih saja selalu mengelabuhi traumanya sendiri. Dipikirnya dia mampu mengendalikan traumanya, tapi sebaliknya. Dia semakin lemah akan dirinya sendiri juga akan rasa traumanya.

Sebuah dilema besar akan keputusannya sendiri. Dia jelas dengan sangat sadar berbeda dengan yang lainnya. Apa yg telah dialaminya lah yang membuatnya seperti sekarang. Masa lalunya menempatkan dia pada posisi pesimis terhadap masa depannya sendiri. Keyakinan untuk bisa hidup seperti orang lain pada umumnya terlihat semu dimatanya sendiri. Adanya sebuah harapan pun makin lama bak seperti oase. Tidak ada yang benar-benar membuatnya yakin. 

Kali ini dia semakin mendekati bibir panggung. Segera dia hentikan ingatan-ingatan itu. Kesadarannya pun kembali menguat. Dilemaskannya otot-otot pada mukanya, dia tak mau terlihat sedih didepan para penghajat pesta itu. Senyumnya mulai terurai secara perlahan begitu dia menggapai tangan-tangan sang penghajat pesta. Dicobanya untuk melupakan segala macam kegusarannya. Dia ganti itu semua dengan senyum seperti tamu undangan lainnya. Paling tidak dia bisa menahan itu sampai kembali turun dari panggung. Sekali lagi dia tak mau membagi perasaan sedihnya itu kepada orang lain. Dibawa matipun tak apa pikirnya, asal orang disekitarnya tetap diam.
Mengutuk masa lalu memang bukanlah sesuatu yang buruk, namun ketika mencoba mendahului masa depan, cobalah balik melihat ke dalam. Sudah merasa lebih besarkah dirimu dibandingkan dengan Tuhan.

Monday, June 16, 2014

Plot

Aku membuat plotku, sedang kamu juga sibuk dengan plotmu sendiri. Merangkainya sedemikian rupa, yang menjadikan turunannya berupa sub-sub plot tertentu. Plotku jelas sangat berbeda dengan apa yang kau miliki. Tak ada sebuah kemiripan sama sekali layaknya sebuah disclaimer yang sering terpampang pada cerita-cerita fiksi. Jalur plotku dan plotmu pun jauh berseberangan. Asik dengan sendirinya dan tak menghiraukan satu dengan yang lain, walau kadang aku dengan keingintahuanku, dengan samar-samar aku melihat jalur plotmu dari tempatku berada. Plotmu kadang berputar-putar tak tentu arah, sama seperti yang kadang aku lakukan. Atau suatu waktu plotmu banyak bersinggungan dengan plot orang lain yang aku kenal. Ya, aku bisa melihatnya hanya dengan berbekal rasa keingintahuanku.

Suatu waktu, entah mengapa secara tak sadar jarak yang biasanya memisahkan garis plotmu dan garis plotku menjadi semakin mendekat. Plot kita berjalan sangat cepat waktu itu tanpa kita sadari satu dengan yang lain. Lama-lama mendekat dan akhirnya bersinggungan. Plot kita bersingunggan untuk kali pertamanya. Tak ada yang istimewa pada mulanya, namu ketika ketersinggungan plot itu menjadi semakin sering. Lalu apa daya ketika muncul sebuah percikan kecil yang menarik untuk munculnya sebuah subplot bersama. Mencoba untuk mensejajarkan dua plot yang awalnya sungguh sangat berbeda nyatanya memang susah. Tak ada ikatan yang saling mengikat antar plot, termasuk juga milikku dan milikmu. Semua berjalan menuliskan jalan nya sendiri-sendiri seperti biasanya. Tak berpola dan sesukanya.

Mungkin akan agak memaksa ketika harus berupaya terus mensejajarkan dua buah plot untuk selalu berjalan beriringan. Tidak mungkin rasanya mengatur sedemikian rupa agar segala sesuatu terlihat wajar di mata. Bukankah akan menjadi sebuah ke otoriteran ketika selalu menginginkan semuanya bagus pada tempatnya sesuai dengan sudut pandang orang pertama. Toh pada kenyataannya, sebuah keseragaman lebih banyak menghasilkan perpecahan dibandingkan dengan keberagaman. Ego yang memuncak pada akhirnya harus mau berkompromi dengan keadaan.

Aku masih menunggu plotmu dengan plotku untuk saling bersinggungan, saling beriris, dan memunculkan subplot-subplot baru dalam perjalanan plot besar masing-masing dari kita. Walau entah kapan.


Thursday, May 29, 2014

Sebuah Pesan dari Keterputus-asaan

Sebuah sudut yang menyajikan kita tempat dimana tidak ada lagi sebuah celah untuk kemanapun. Terpojok karena terus dihimpit. Tak ada ruang mengelak sedikit pun. Kemudian seketika keterputus-asaan datang menghampiri. Tak banyak yang dibawanya selain dari sebuah kesunyian yang sangat amat dalam merasuk.

Ketersudutan yang akan memunculkan sebuah ketidakmampuan untuk berpikir akan apa yang sudah direncanakan sebelumnya. Menumpulkan segala macam daya pikir ataupun hanya sekedar untuk berimajinasi. Suasana gelap dan kalut yang terasa menyesakkan yang makin lama semakin menjadi. Berpikir untuk sekedar meminta pertolongan, akan tetapi lalu menyadari bahwa tiada lagi yang ada disekitar. Toh jikalau ada, bukankah rasa percayamu akan orang lain sudah tidak ada sebelumnya. Percuma saja kemudian jika tetap mengharap iba orang.

Pada akhirnya segala pilihan terakhirmu hanyalah sebuah remah-remah yang tersisa dari sebuah pesta besar dari alam semesta. Tak akan ada lagi opsi tawar menawar yang diberikan. Cuma ada satu, ambil yang tersaji atau silahkan pergi untuk kembali meratapi segala keluh kesahmu sendiri.

Tuesday, April 29, 2014

Rival

Tabiat itu bak gen yang sudah sangat lekat melekat dengan darah mereka. Mengalir deras kesetiap sendi tubuh mereka yang kemudian diimplementasikan dengan perbuatan yang mereka kira wajar. Tak pernah merasa bersalah dan selalu jumawa kepada siapapun, padahal hanya ego dan kefanatikan semu yang kalian punya. Maaf jika saya harus mengatakan seperti itu, tapi itulah yang saya lihat sampai kejadian tadi sore. Tidak ada itikad baik dari pada menyambung sebuah benang kusut hasil dari keburukan masing-masing dari kita di masa lalu. Seakan merasa paling besar dan tua, tapi toh itu masa lalu. Tak perlulah membanggakan yang dulu kalau justru semakin kemari yang ada kalian hanya semakin mundur.

Mungkin jika almarhum ayah saya masi hidup sampai sekarang, beliau masi akan ada di bagian mereka. Menjadi penonton di salah satu sudut tribun itu. Berteriak apapun kepada punggawa-punggawa yang berlari dilapangan dan sesekali mengumpat kepada siapapun yang beliau mau. Dan saya sendiri akan berdiri di seberang sisi beliau. Bukan untuk memusuhi, namun untuk kali ini saya memutuskan untuk berbeda pandangan dengan beliau. Entah beliau akan marah atau tidak, tapi semoga dia paham. Mungkin beliau tidak sempat melihat anaknya ini menyukai apa-apa yang beliau coba kenalkan pada saya waktu kecil. Tapi percayalah, bahwa kali ini saya benar-benar lebih dari pada sebuah arti cinta pada hal ini. Walaupun berbeda tapi saya sendiri tak bisa membohongi diri saya sendiri akan dimana letak kebanggaan saya itu letakkan. Bolehkah dikata kalau biarlah kita mejadi rival selama 90 menit tapi setelah itu kembali kita menjadi sebuah keluarga yang saling melengkapi.

"Logo candi di dada itu akan selalu saya puja, karena disitulah ada tempat untuk kebanggaan saya berada."

Konektivitas

Membuncah bahagia kemudian memuntahkan semuanya.
Beriang gembira lalu terpuruk tak tahu kemana harus menyelinapkan murung berada.
Selalu bergidik dan menyangkal tapi dalam hati menuai rasa penasaran.
Sampai pada akhirnya selalu ada batas akhir pada apapun itu tak terkecuali.
Melepaskan entah harus dengan berat hati atau diiringi dengan sorak sorai.
Melupakan apakah nantinya dengan terpaksa atau berlalu secara sendirinya.
Suatu akhir yang nantinya akan berakhir.
Hilang tak berbekas.
Menjadi abu kemudian berhambur.
Segalanya yang membuatmu bahagia dengan cepat, maka seketika akan membunuhmu setelahnya.


ke-Aku-an

Menjadi diri sendiri yang betul-betul disadari secara sadar bahwa akulah aku tanpa ada sebuah ke-aku-an yang dibuat-buat nyatanya memang susah. Karna toh kita tidak bisa lepas dari orang lain. Persepsi dan label yang akan selalu mengiringi setiap langkah yang kita buat. Entah itu baik atau buruk, kita terima dengan lapang, acuhkan, atau bahkan yang akan kita lawan sampai kita mampus nantinya.

Tidak ada yang gampang sekarang, bahkan untuk sekedar hidup pun susahnya setengah mati. Jikalau hidup semudah apa yang dikatakan oleh para motivator-motivator itu, tentulah bangsa ini tak memerlukan keringat dalam mendirikannnya. Cukup dengan modal jongos dan bantal untuk membangun mimpi didalamnya. Tapi tau apalah saya akan sebuah susahnya hidup, jika keluh kesah hidup saya hanya terjadi di dunia perkicauan yang berharap tiap orang yang membacanya merasa iba kemudian menanggapinya dengan respon yang menyenangkan sesuai keinginan. Jikalau tidak ada yang merespon, cukuplah hanya tinggal membuat kicauan yang lebih mendramatisir lagi. Tak perlulah saya berbicara terlalu lama masalah susahnya hidup jika hanya masalah baterai hape yang tersisa hanya 20% saja sudah membuat saya panik tak karuan, atau ketika jaket branded saya terkena noda makanan mahal yang saya beli sendiri.

Hidupmu adalah hidupmu, begitu pula dengan ku. Yang menyangkut pautkan hanyalah kebaikan-kebaikan yang kita lakukan apapun itu. Selain itu, itulah urusanmu dan urusanku sendiri. Tak perlulah ingin tahu yang berlebih. Karna kadar keingintahuan milikmu dan milikku ini sungguh mengerikan jika kau tau. Toh ketika kau tau lebih, benarkah itu akan membantumu dalam menjalani hidupmu? Atau justru sebaliknya? Karna ada saatnya bahwa menjadi orang yang tidak tahu akan apa-apa itu sungguh sangat menyenangkan.


Friday, November 29, 2013

Ketika Memilih Menjadi Sebuah Syarat Untuk Hidup

Katanya hidup itu hanya sebatas pilihan.
Yang tiap pilihannya menuntun ke pilihan lainnya.
Namun Siapa bilang memilih itu mudah.
Ketika yang dipilih justru membuat kelanjutan hidup semakin payah.

Menjadi menyebalkan ketika jalan hidup hanya ditentukan dari sebuah pilihan.
Kemudian betapa mirisnya saya yang hanya utk lolos tes psikotes saja saya terus saja berkeluh kesah.
Bagaimana mungkin memilih hanya untuk sebatas mampu melanjutkan hidup.
Dari dulu selalu mencoba memilih membuat orang lain disekitar bahagia.
Namun ketika satu persatu dari mereka pergi membawa kebahagiaan yang mereka dapati.
Sendiri kemudian menyadari betapa menyedihkannya diri ini sendiri hingga lupa bagaimana cara untuk membahagiakannya kembali.
Menjadi pamrih kah kemudian yang jadi pertanyaan?
Untuk saat ini siapa yang perduli dengan kata itu dihati.




Friday, June 28, 2013

Banal

Menjadi banal akan segala sesuatu, terutama ketika menyangkut dirimu didalamnya. Menyangka semuanya benar. Mengesampingkan segala macam logika berpikir dan intuisi. Imaginasi dan ekspektasi tinggi terus saja diputar berkali-kali dalam kepala. Mendayu-dayu di telinga. Membuyarkan apa yang disebut dengan fakta.
Kamu semu, tapi justru kesemuanmya itu yang menjadi candu. Yang membuatku lama tak tersadar dan tak terasa semakin jatuh ke dasar. Terbenam dan makin tak terlihat. Mati kemudian.

Thursday, June 20, 2013

Sederhana

Tak ada yang sebenarnya lebih indah daripada sebuah kesederhanaan.
Bahwa kebahagiaan itu sederhana, tapi untuk mencapai sebuah keserhanaan itu sendiri sebenarnya tidak sesederhana yang diharapkan.
Ada sebuah kompleksitas yang luar biasa dibaliknya. Menyatukan segala fragmen kebahagian yang sangat besar untuk dikerucutkan menjadi sebuah hal kecil yang sering kali terlupakan dalam pikiran kita.
Berpikir jauh kedepan hanya untuk menemukan sebuah kesederhanaan padahal justru didepan mata sendiri hal itu bisa ditemukan. 

Teringat, Suatu sore itu kita bertemu dalam sebuah percakapan sederhana.
Saling bersapa secara sederhana yang diselingi dengan beberapa tawa kecil didalamnya.
Berjalan beriringan dengan langkah sederhana. Tiap satu langkah kaki diikuti oleh langkah kaki berikutnya. Aku didepan dan kau tepat dibelakang. Namun kadang saling mensejajarkan diri.
Sederhana, Hanya sebuah keserhanaan yang diinginkan. Tak ingin terlalu berlebihan. Karena hanya dengan adanya aku dan kamu segalanya sudah tercukupkan.




Wednesday, May 15, 2013

The Call




*It started out as a feeling
Which then grew into a hope
Which then turned into a quiet thought
Which then turned into a quiet word
And then that word grew louder and louder
'Til it was a battle cry
I'll come back when you call me
No need to say goodbye

Monday, April 22, 2013

Perpisahan

Apakah yang namanya perpisahan itu harus dibarengi dengan duka?
Tidak sudikah bahagia untuk sekedar membagi waktu bersama saling menemani sebuah perpisahan dengan tanpa adanya duka bersama mereka. Cukup hanya sebuah kebahagiaan dan sebuah perpisahan yang sederhana, tidak lebih.
Ataukah memang setiap hal yang berlawan akan selalu bermusuhan sampai esok kapan kelak?
Tak akan pernah ada solusi diantara keduanya karena memang nyatanya sudah ditakdirkan untuk berlawanan.
Apakah dengah angkuhnya kebahagiaan melupakan masa dimana dia pernah singgah dan bermain-main dulunya lalu acuh dengan perpisahan?

Karena sungguh dengan meninggalkanmu, ada luka baru yang jelas akan membekas.
Menjadi bagian yang tak terhilangkan.
Penanda bahwa dulu ada duka yang pernah singgah didalamnya.

Untuk kali ini, tidak ada terselip ucapan selamat tinggal. Karena berharap hari esok, semesta akan mempertemukan kita lagi dengan caranya sendiri sama seperti pertama kali kita bertemu.

Saturday, April 20, 2013

Masihkah Mau Menunggguku?


image source: dharbin

Apalagi hal yang paling tidak disukai selain menunggu. Tapi celakanya justru itulah yang kita temui setiap saat dan dimanapun kita berada. Berapa banyak waktu hidup kita terbuang dengan yang namanya menunggu. Suka tidak suka menunggu menjadi bagian tak terelakkan dari hidup kita tapi toh nyatanya hal tersebut belum benar-benar bisa menyakinkan alam bawah sadar kita untuk bisa benar-benar menerimanya. Berbeda dengan segala kebiasaan yang lainnya, yang ketika itu terjadi berulang-ulang dan dilakukan secara masif maka secara tidak sadar alam bawah sadar kita akan menerima itu dengan hati yang lapang dan membuatnya seolah-olah tidak ada masalah dengannya. Tapi lagi-lagi itu tidak terjadi dengan yang namanya menunggu. Dia seolah-olah menjadi sesuatu yang pantas dimasukkan kedalam hal-hal haram yang menjauhkan diri kita dari surga.

Dilematis ketika menunggu menjadi pisau bermata dua. Disatu sisi kita membencinya habis-habisan tapi nyatanya kita sendiri juga suka bermain-main dengannya. Berapa banya kita mengumpat akan orang-orang yang berhasil membuang waktu kita secara percuma tapi dilain waktu kita juga berhasil melakukannya pada orang lain. 

Ada banyak ketidakpastian dalam hidup ini, terkecuali menunggu. Karena toh menunggu adalah sebuah keniscayaan yang sudah kita alami sedari sebelum dibentuk didunia sampai nantinya akan di alam akhirat kelak. Bagaimana kontrasnya kita dengan suka citanya menunggu untuk dilahirkan tapi disatu sisi dengan muram durjananya kita membenci untuk masuk dalam antrian menunggu ajal kita masing-masing. Ketika mengumpat sebanyak apapun tidak mampu mengubah apa-apa dari proses menunggu maka mungkin bersabar dan bertoleransi kepadanya menjadi hal terakhir yang harus dilakukan. Menunggu itu adalah sia-sia, ya mungkin itu menurutmu, tapi nyatanya tengoklah Tuhan mu yang tak pernah berhenti untuk menunggumu kembali kejalan yang benar dan selalu merindukanmu untuk kembali kepada Nya dalam keadaan yang bersih.

Jadi, masihkah mau menungguku?

Monday, April 1, 2013

I'm A Sinner, I Like It That Way

 "Counting others people's sins doesn't make you a saint" -unknown

Selama masih menjadi apa yang disebut dengan manusia, tentu tidak akan terlepas dari apa pun itu yang namanya dosa. Semakin bangga dengan mengatakan bahwa dirinya suci justru membuatnya terlihat menyedihkan. Bagaimana tidak, dengan bangganya dia menyebut dirinya lebih baik daripada orang lain. Menurut dirinya sendiri mungkin, tapi aspek orang lain justru ia singgirkan dan hanya digunakan sebagai pembanding kecil.

Saya hidup penuh dosa dan saya menyadarinya. Berapa banyak umpatan, sumpah serapah, ghibah yang tak terhitung lagi jumlahnya, dan air ludah yang saya telan sendiri dan lain sebagainya yang keluar dari mulut ini. Tak terhitung banyaknya pandangan ini melihat sesuatu yang bukan seharusnya untuk dilihat. Ada berapa kilogram bagian dari tubuh saya ini yang mungkin hasil dari perbuatan saya mengambil hak dari orang lain. Dan akan masi banyak banyak lainnya. Saya jelas paham dengan apa yang lakukan itu termasuk hal-hal yang sangat tak layak untuk menjadikan diri saya ini sebagai penghuni surga kelak yang seperti orang-orang idamkan namun terlihat jauh panggang dari api. Dan bahkan yang sedang saya tulis ini pun bisa jadi sedang dihitung oleh malaikat untuk menjadi dosa tambahan bagi diri saya sendiri. Tidak ada yang tahu persis definisi dosa. Yang diketahui hanyalah yang tertulis dan yang dirasa. Sedang rasa itu sungguh sesuatu yang kadarnya saja sukar untuk dihitung.

Saya bersalah dan saya meminta maaf. Perkara saya hanya sampai disitu. Karena bagi saya, ketika seseorang berbuat salah kepada saya jelas saya akan memaafkan nya terlepas nanti saya berniat akan balas dendam kepadanya itu urusan dosa saya yang lain. Ya, forgiven but not forgotten! Mind that...

Thursday, March 14, 2013

Bianglala

Aku terdiam berada di dalam kapsul. Kapsul yang berputar searah jarum jam. Pelan dan selalu konstan. Tak pernah terburu-buru untuk mengabiskan setiap putarannya. Bahkan setiap derajat pergerakannya bisa aku rasakan melalui kursi yang aku duduki. Kadang untuk sesekali memberanikan diri untuk melihat apa saja yang sedang terjadi di luar sana melalu kaca buram yang menempel pada tiap kapsul. Buram karena memang disengajakan untuk menjadi buram. Untuk kemudian kembali duduk merasakan tiap-tiap derajat yang dilalui.

Sebuah kenyamanan. Merasa aman karena hanya aku sendiri yang ada didalam kapsul. Tak ada yang menggangu. Paling hanya dingin dan panas sesekali yang masuk melalui celah-celah sambungan dinding kapsul yang mulai berkarat. Masih terdiam dan kali ini lebih hening, yang keheningan itu biasanya akan memuncak ketika si kapsul tepat berada di ujung terbawah dari putaran. Tak ada suara yang benar-benar terucap kali ini. Hanya perasaan yang mengikuti irama putaran dari kapsul.

Glek.. Putaran berhenti tepat pada posisi terbawah. Tak bergerak dan terus diam. Ketakutanku semakin menjadi. Entah apa yang membuatku kali ini memberanikan diri mendekati pintu kapsul yang untuk sebelumnya aku jauhi benar-benar. Sedikit demi sedikit pancaran sinar matahari membuat mata ini memejam. Tak kuat menahan silaunya. Satu langkah keluar dan kemudian langkah selanjutnya mengikuti.

Kapsul itu tetap diam. Bahkan ketika aku tepat berdiri diluarnya. Berpaling mata ini darinya yang kemudian disusul sebuah tangan yang secepat kilat merangkul lenganku untuk melenggang menjauh dari si kapsul. Tanpaku sadari, diri ini semakin menjauh. Menjauh dan jauh tanpa tahu akan kemana. Barulah sadar bahwa ketika itulah dirimu ketika pertama kali menarikku menjauh dari kapsul ku.

Asing. Siapa kamu yang tiba-tiba datang menarikku menjauh dari area permainanku sendiri. Yang mencoba mengambil setiap detik berhargaku dengan kapsulku. Mencoba menolak, tapi nyatanya diri ini selalu saja mengikuti arahan tarikanmu. Semakin hilang dan tak tahu akan kemana. Tak punya keberanian. Dan kembali tersadar bahwa nyatanya keberanian ku selama ini hanya sebatas ruang kapsul ku yang tidak bisa membantuku sama sekali.

Bahwa rasa sayang itu tidak terjadi secara tiba-tiba melainkan dibuat secara perlahan-lahan, maka kali ini aku akan mengamininya dengan sungguh-sungguh.

Wednesday, February 20, 2013

jatuh mencintaimu

 
"Jikalau disuruh memilih, Aku tidak akan memilih untuk jatuh cinta kepadamu, melainkan lebih memilih untuk mencintaimu."
Karena jatuh cinta merupakan proses yang terjadi secara spontan sedangkan dengan mencintaimu, aku berarti dengan penuh kesadaran telah memilihmu untuk menjadi kekasihku.
 --------------------------------------------
images by marchin sacha

Friday, February 8, 2013

Pilihan Terakhir Dari Sekian Banyak Pilihan

"Well, if you don't like it, you know what you the solution is, don't you?" yelled Hermione; her hair was coming down out of its elegant bun now, and her face was screwed up in anger.
"Oh yeah?" Ron yelled back. "What's that?"
"Next time there's a ball ask me before someone else does and not a last resort!"
Ron mouthed soundlessly like a goldfish out of water as Hermione turned on her heel and stormed up the girls' staircase to bed.

Menjadi yang terakhir. Menjadi bagian dari sebuah rencana besar, namun hanya sebatas rencana cadangan paling akhir ketika semua rencana gagal dilaksanakan. Siapa yang mau menjadi yang terakhir ketika semua orang berlomba-lomba untuk mejadi yang pertama.

Jikalau memang terbesit dipikiranmu untuk menjadikan orang lain sebagai pilihan terakhirmu atas ketidak mampuanmu menggapai standard yang kau buat sendiri. Maka jangan salahkan orang lain ketika nantinya tiada satupun yang kau dapat pada akhirnya. Belajarlah untuk menghargai orang sebelum dirimu sendiri minta dihargai orang lain.



Tuesday, February 5, 2013

Shasa

Diam dia dalam tidur dan sesekali menggerakkan kedua tangannya sembari mencoba membuka mata kecilnya. Tapi buru-buru niat itu ia urungkan karena organ tubuhnya belum mampu menerima sesuatu yang terang. Dia kembali tidur pulas seperti biasa. Namanya Shasa. Perempuan berumur 10 hari yang saya temui kemarin, berkulit putih halus, tinggi, dan berhidung mancung dengan jari-jari tangannya yang panjang. Namun sayang, ketika kelahirannya harus disembunyikan dari khalayak ramai. Jauh dari hingar bingar kebahagiaan pada umumnya. Sepi dan sendiri bersama orang yang bukan orang tuanya yang seharusnya setiap saat ada untuk mengasihinya. Atas nama jalan terbaik bagi kelangsungan hidup kedua orang tuanya dia harus diasingkan sementara waktu.

Ditawarinya saya untuk menimangnya. Ah, tidak kataku. Cukup memandanginya saja saya sudah senang bukan kepalang. Melihat dia tersenyum seakan tiada menghiraukan segala macam hal yang akan dia hadapi kedepannya. Mengacuhkan keberadaan tiap-tiap manusia yang mencoba menanyakan tentang asal usulnya. Miris rasanya. Hanya doa saja yang kemarin sempat saya selipkan kepadanya yang disusul dengan sebuah senyum simpul dari bibir kecilnya.

Menjadi ayah dari seorang gadis mungil polos berumur sepuluh hari. Yang bahkan warna kulitnya pun masih merah. Mimpi apa saya semalam?

Monday, January 21, 2013

Masa Depan Seperti Apa?

pelan tapi pasti, kenyataan itu pasti akan datang.
kenyataan akan segala hal yang terabai.
tak terindahkan namun secara perlahan terus menambah.

siapa yang tak perduli dengan masa depan sekarang?
ketika kenyataan itu muncul kembali.
menampar keras di wajah berkali-kali.
memuntahkan sejuta ekspektasi di setiap jaringan sel dalam otak.
mencoba memainkan irama-irama satir kehidupan alam bawah sadar.

tapi kemudian masa depan milik siapa untuk diperdulikan?
ketika tidak ada yang dimiliki sama sekali.
terbiasa hampa yang menjadikan kekosongan menjadi teman.
bebal akan kehidupan nyata dan terlalu lama bermain dalam imaji.

masa depan yang seperti apa yang harus diperdulikan?
hitam.. gelap.. sepi..
tak ada siapapun didepan.
sepertinya mati. ya masa depan itu mati. tak bernyawa.
bukan sebuah zat yang berbentuk. dia tak ada secuil pun wujud.

jadi harus memperdulikan siapa sekarang?